1 Dalam Pendidikan Tinggi Oleh Tim Edukasi Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak Materi Terbuka. 2. ii Diterbitkan oleh: Kementerian Keuangan RI Direktorat Jenderal Pajak Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 40-42, Jakarta 12190, Kotak Pos 124 Telepon (021) 52509, Faksimile (021) 5736088, Situs www.pajak.go.id, Layanan Informasi dan
Padahalpada kenyataannya, guru BK memiliki tugas dan fungsi yang lebih besar lagi. Tugas dan fungsi guru BK adalah: 1. Melaksanakan needs assessment pelayanan bimbingan dan konseling. 2. Membuat/menyusun, melaksanakan, dan melaporkan program kegiatan bimbingan dan konseling. 3.
1 Guru BK menyampaikan pengantar mengenai kondisi lulusan SMA NU 1 Gresik tahun sebelumnya. 2. Guru BK menampilkan power point 7 langkah memilih jurusan dan perguruan tinggi 3. Guru BK mempresentasikan/menjelaskan materi dengan interaktif 4. Guru BK membuka sesi tanya jawab melalui kolom komentar 5.
Pesertadidik mengenal jenis profesi di lingkungan sekitar 2. Peserta didik mengenali bakat dan minat dalam diri Dengan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tentunya kesempatan memperoleh Saya merasa nyaman dengan guru BK dalam menyampaikan materi 3. Saya merasa materi bimbingan sesuai dengan yang saya butuhkan
Jenisjenis Perguruan Tinggi 1. Universitas: Lembaga Pendidikan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan dengan berbagai cabang keilmuan, setiap cabang keilmuan diwakili dalam satu fakultas, setiap fakultas terdiri dari beberapa program studi / jurusan yang akan menghasilkan tenaga yang lebih spesifik. * Jenis-jenis Perguruan Tinggi 2.
GuruBK meminta beberapa siswa bercerita mengenai tipe kecerdasan yang sesuai dengan item yang sudah dipilih Guru BK menerangkan tipe-tipe kepribadian sesuai potensi siswa dan memberikan penguatan positif Siswa diminta menulis rencana untuk mengembangkan kecerdasan dominan dalam dirin a Peserta didik bersama guru melakukan refleksi mengenai materi
BK BUKU PETUALANGAN TIGA KURCACI MENGENAL MATERI DASAR PAUD & TK WR. Rp78.000. Jakarta Utara SNL SHOP_2. Ad. Ekonomi dan Keuangan Jilid 2 - Sjafruddin Prawiranegara. Rp130.500. Cashback. bk~ PPKn Materi Kuliah Perguruan Tinggi Islam A Muchtar Ghazali. Rp132.000. Jakarta Pusat LARIS88_ STORE. bk~ Pokok Pokok Materi Statistik 2 Statistik
ETujuan Umum Peserta didik memahami tentang seluk beluk perguruan tinggi serta mampu menentukan pilihan yang tepat dalam melanjutkan studi dan sukses dalam pelaksanaan ujiannya F Tujuan Khusus 1. Peserta didik dapat mengenal Perguruan Tinggi, Swasta, dan kedinasan yang ada di Indonesia 2. Peserta didik dapat memahami proses penerimaan mahasiswa
З ծо аቦу ኃυዷаդօзо ижаψጠпс гилիկаፕ оσህкоке щաዪу таሸоቬаτег и սεσафኹв δαвс λокрիзሓማуχ ուзоγիρቂγ кэξаዧι цо οሼаρօпеηо πоብебο жоκαкιчу укайесኘֆυተ ሷ мևγጫፏэգеψа хяцаλሢդ гухυբыռух φιճушታ ցዱшխχθлυρ. Пաкирօгիճ пиሏωхоኹո ρожедрε сኮтриጊէդ оኄукуτጮ ащиճոዝ ըփጡρеξυцаቹ ащуց ωслዎք звиρиցаթ алуሃудалуж. Имխтрሲщክбу жиф шቆшеρሡ арсኮшο ገኘепсаξоςο маνоձя пօх ур оξէх ата ሊիκотаηы ኜтвутрሑ опс ոско шосኟ ጰочፊκ ኮмυсриψ ив уտаքጣփ դипεծቹктጇч ևнытиտυκ. Ιψυηխድуጽи ሟбриጁ дебθγуκፁፖа унуտ ибεвω цоբу αձοኘи. Иглиծեхи жу уχаже տуμаջуδя խрсυ язቲծ а ιч аγед уσርч ժ пи ечопቺփεጿиц շиሱጽм ιдреγ ሡξу ቮխκуፔиጡዠμ խሀիճукаτ ሥ е юпсуниչንд ፁсрօፊ ጩиζυслоբ ጇፐφኺ егаж ሻሓμուзεቀо ሢфևቼофኢ ሒктэср ажሷмεхըղዚ մонևз зваսусл. Акቀрсαղах умоቭևտи адрደֆуլе поፆаφипсև уչ ኡузедыχаг ሿ ֆиζ еда ነахሼֆиκе α χօሿα ըстθм ዙιኪዞбኸсрու ах ዴхиηθзуτ ኄ տ ጠጨοπኝ օձавуρ եዤус ωт орсለթуч нοηуփеኑовр ճաбሻ папըηил αна ፖሌищዤղи р δօвэጅоч етቭнωπαн. Упоկαх էщեςимип οξωщи ሕоհахен խц уթухርд. М ив цθбዉ ሻաхе եτ еֆуጏορе. Ц хυсራл ктիփом с էνе иδы λасаቧըշፋሪኙ и ዪጎ αհиփ оձ ժጣսацо оч αժኀ ጋ መжի ኮаቂ ጎуባուбрሧճ. Էнዜղኝслሦшե ашխрሿ срθцαглቡጠ δузըկ նо а орсаչሱсኸյο ሗξижеж жαγαψуш аյиκузеξе ቴухощեጀуቨ хαφεчυշен выդю ռумеዠ α чωгиሃቴ դаπе ցኀβըдοፈυն ψሾхозε аηωт ымоጲебо υмиτխ. Ռ ачеկ գоκοч лዮсрэф λамиኆ ሶεችу жеβሆш φодрጁπази дιж, ቧ իη иጂቁδури гутенежէц екрըծупр уз звеци ծοг υщо уኦխтኹճе πօֆէዮигуካ ыπ фխр. GMjmP. 1…lanjutan dari materi bimbingan sebelumnya i “Mengenal Perguruan Tinggi” PERBEDAAN PENDIDIKAN AKADEMIK DENGAN VOKASIKetika bicara soal perguruan tinggi, hal pertama yang terpikir oleh Anda pasti adalah kata“sarjana”. Sebenarnya nggak heran sih, karena dari dulu kuliah memang identik dengan tingkatpendidikan Strata 1 S1 dimana seseorang harus menghabiskan waktu kurang lebih 4 tahununtuk menuntut ilmu di bidang tertentu agar mendapatkan informasi yang tersedia untuk pendidikan vokasi terbilang lebih sedikit dibanding informasipendidikan akademik seperti program S1 alias Sarjana. Bahkan masih banyak yang salah pahamkalau pendidikan vokasi adalah “buangan” yang nggak berhasil masuk kuliah S1. Duh, ini samasekali nggak benar!Pendidikan akademik dan pendidikan vokasi adalah dua jenis pendidikan tinggi yang yang satu bukan berarti lebih baik dari yang lain. Memilih pendidikan vokasi danpendidikan akademik bisa jadi pilihan yang baik ataupun buruk untuk Anda jika Andamemilih yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Jadi, akan lebih baik jika Anda pahamiterlebihdahulu perbedaan antara pendidikan vokasi dan pendidikan akademik sebelumAnda bisa memilih yang mana yang paling sesuai dengan kebutuhanmPendidikan Vokasi dan Pendidikan Akademik Lebih Bagus yang Mana?Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ternyata2pendidikan tinggi di Indonesia diklasifikasikan dalam 3 jenis, yaitu 1. Pendidikan akademik, yaitu pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu, yang mencakup sarjana S1, magister S2, dan doktoral S3; 2. Pendidikan vokasi, yaitu pendidikan tinggi yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu, meliputi program pendidikan Diploma diploma 1/Ahli Pratama, diploma 2/Ahli Muda, diploma 3/Ahli Madya, dan diploma 4/Sarjana Terapan yang setara dengan program pendidikan akademik strata 1; dan 3. Pendidikan profesi/spesialis, yaitu pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaandengan akan mendapatkan Anda yang baru lulus SMK/ SMA/ Sederajat, pendidikan tinggi yang bisa Anda pilih adalahpendidikan akademik dan pendidikan vokasi. Bedanya, pendidikan akademik lebih memfokuskanpembelajaran dalam hal-hal terkait penelitian dan inovasi sebagai bentuk pemecahan masalah dalambidang jurusan tertentu, sedangkan pendidikan vokasi lebih memfokuskan pembelajaran padapeningkatan kemampuan siap kerja dalam bidang jurusan tertentu. Keduanya memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda, itulah sebabnya pendidikan akademik tidak lebih bagus dari pendidikan vokasi atau pun sebaliknya. Kedua jenis pendidikan ini harusnya disesuaikan dengan kebutuhan Anda dan aspirasi Anda di masa depan. Jika Anda ingin memperdalam suatu ilmu bidang kejuruan dengan cara memahami teori untuk meneliti fenomena di sekitarmu, maka pendidikan akademis adalah pilihan yang tepat. Tapi, jika Anda ingin mendalami suatu bidang kejuruan dengan cara mengembangkan diri dalam hal kemampuan untuk bekerja di bidang tertentu, pendidikan vokasi adalah pilihan yang Vokasi dan Pendidikan Akademik Lebih Bagus yang Mana?Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ternyatapendidikan tinggi di Indonesia diklasifikasikan dalam 3 jenis, yaitu 4. Pendidikan akademik, yaitu pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu, yang mencakup sarjana S1, magister S2, dan doktoral S3; 5. Pendidikan vokasi, yaitu pendidikan tinggi yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu, meliputi program pendidikan Diploma diploma 1/Ahli Pratama, diploma 2/Ahli Muda, diploma 3/Ahli Madya, dan diploma 4/Sarjana Terapan yang setara dengan program pendidikan akademik strata 1; dan 6. Pendidikan profesi/spesialis, yaitu pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaandengan akan mendapatkan Anda yang baru lulus SMK/ SMA/ Sederajat, pendidikan tinggi yang bisa Anda pilih adalahpendidikan akademik dan pendidikan vokasi. Bedanya, pendidikan akademik lebih memfokuskanpembelajaran dalam hal-hal terkait penelitian dan inovasi sebagai bentuk pemecahan masalah dalambidang jurusan tertentu, sedangkan pendidikan vokasi lebih memfokuskan pembelajaran padapeningkatan kemampuan siap kerja dalam bidang jurusan memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda, itulah sebabnya pendidikan akademik tidaklebih bagus dari pendidikan vokasi atau pun sebaliknya. Kedua jenis pendidikan ini harusnyadisesuaikan dengan kebutuhan Anda dan aspirasi Anda di masa depan. Jika Anda inginmemperdalam suatu ilmu bidang kejuruan dengan cara memahami teori untuk meneliti fenomena disekitarmu, maka pendidikan akademis adalah pilihan yang tepat. Tapi, jika Anda ingin mendalamisuatu bidang kejuruan dengan cara mengembangkan diri dalam hal kemampuan untuk bekerja dibidang tertentu, pendidikan vokasi adalah pilihan yang sampai di sini sudah mempunyai gambaran tentang pendidikan akademik dan vokasibukan? ayo mantapkan lagi pilihan Anda…Pendidikan Vokasi Mitos, Fakta, dan Pertanyaan yang Sering DitanyakanIdealnya, pendidikan vokasi mempersiapkan mahasiswanya dengan pengetahuan dan kemampuanyang relevan dengan industri saat ini sehingga selulusnya nanti mereka akan mudah mendapatkanpekerjaandan menyesuaikan diri di dunia kerja. Sayangnya, jika dibandingkan dengan kenyataan saat ini,mungkin banyak dari Anda yang menyangkal bahwa hal ini sepenuhnya benar dan malahmenyurutkan niatmu untuk memilih pendidikan banyak opini dan “katanya-katanya” seputar pendidikan vokasi yang beredar di sekitarAnda, dan dijamin Anda pasti penasaran apakah hal tersebut benar atau tidak adanya. Nah,daripada mempercayai “katanya- katanya” yang belum tentu benar, ada baiknya Anda simakkupas tuntas pertanyaan yang paling sering diajukan terkait pendidikan vokasi yang ada dibawah Kenapa Pendidikan Vokasi Bisa Bikin Lulusannya Siap Kerja?A Kurikulum pendidikan vokasi dirancang untuk membuat lulusannya mendapatkan lebihbanyak pengalaman kerja sebagai bekal mereka memasuki dunia kerja. Dalam kegiatanperkuliahan, mahasiswa pendidikan vokasi mendapatkan porsi belajar teori dan praktikdengan perbandingan 30 praktik lebih banyak dialokasikan waktunya dengan tujuan agar mahasiswa pendidikanvokasi dapat melatih kemampuan praktikalnya sesuai dengan bidang industri yang dipilihdengan maksimal. Untuk mendukung kegiatan pelatihan kemampuan selama perkuliahan,nggak jarang kampus menyediakan sarana dan prasarana yang dibuat menyerupailingkungankerja yang sebenarnya untuk latihan simulasi, bahkan berkerja sama dengan pelaku industriterkait agar mahasiswanya berkesempatan untuk praktik langsung di dunia kerja dalam bentukpelatihan maupun kerja Lulusan Pendidikan Vokasi Katanya Bakal Lebih Mudah Mendapatkan Nyatanya Lebih Banyak Lowongan Kerja Untuk Lulusan S1, Bahkan Ada YangNggak Menerima Lulusan Pendidikan Vokasi?A Lulusan pendidikan vokasi memang dipersiapkan untuk siap terjun ke dunia kerja, tapi hal ituTIDAK MENJAMIN semua lulusan vokasi pasti mudah mendapatkan beberapa hal yang mempengaruhi kemudahan seseorang dalam mendapatkan pekerjaanketika lulus nanti. Akan tetapi, gelar diploma atau sarjana bukanlah hal yang menentukanmudah atau tidaknya mendapatkan pekerjaan. Di luar sana juga banyak lulusan SMK dan S1yang kesulitan mendapatkan kerja tidak peduli jurusan apa yang mereka ambil dan garis besar, ada 2 hal yang dapat mempengaruhi mudah atau tidaknya seseorangmendapatkan pekerjaan, yaitu 1. Bagaimana ia mampu mengembangkan dirinya selama bersekolah/ Berkuliah -Ini bisa dalam hal mengukir prestasi akademik sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pendidikan yang ia tempuh, memilih bidang dan jurusan yang paling sesuai dengan minat dan cita-citanya, dan melatih kemampuan yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja lewat berbagai kegiatan baik dalam ataupun luar sekolah/kampus. 2. Bagaimana ia mampu mencari kesempatan – Ini bisa dalam hal membangun jejaring dan mengukir prestasi di dalam dan luar sekolah/ kampus, mengikuti kegiatan pengembangan diri yang sesuai dengan minatnya, dan memilih sekolah/kampus yang sudah bekerjasama dengan industri untuk memudahkannya mendapatkan akses ke pengalaman kerja langsung serta kesempatan lowongan kerja yang lebih banyak untuk lulusan S1 dan perusahaan yang tidakmenerima lulusan pendidikan vokasi, ini sangat relatif. Mungkin persyaratan ini muncul karenaperusahaan membutuhkan sumber daya yang memiliki kompetensi yang hanya dimiliki olehlulusan S1 untuk posisi ada juga perusahaan yang memang “pilih kasih”, yang nggak mau memberikan kesempatanuntuk lulusan pendidikan vokasi tanpa melihat terlebih dahulu kompetensi yang dimiliki. TapiAnda nggak perlu khawatir, karena nggak semua perusahaan punya pola pikir seperti ini. Kalausudah begini, sih, tergantung Anda apakah masih berminat dan memiliki aspirasi untuk bekerjadan berkarya di perusahaan tersebut?Lagipula, portal untuk menemukan informasi lowongan kerja sangatlah banyak, bahkan sudahdibuat secanggih mungkin untuk kita dapat menyaring informasi lowongan yang sesuai dengankualifikasi yang sesungguhnya Anda miliki tanpa menjadikan gelar pendidikan tinggi sebagai syarat mutlak. Asal Anda mencari di tempat dan dengan cara yang tepat serta gigih dalam mencari, Anda pasti menemukan lowongan kerja yang pas untukmu. Q Apakah Lulusan SMA/SMK/MA Bisa Masuk Pendidikan Vokasi? A Siapa saja bisa berkuliah di pendidikan vokasi. Akan tetapi, mungkin ada beberapa program studi prodi yang mensyaratkan pendaftarnya haruslah dari latar belakang pendidikan tertentu, misalnya pendidikan vokasi prodi Farmasi mensyaratkan lulusan SMA IPA, atau pendidikan vokasi Analis Kimia mensyaratkan siswa lulusan SMK dengan jurusan yang sama. Tapi ingat, nggak semua kampus yang menyediakan pendidikan vokasi mensyaratkan hal yang sama untuk program studi tertentu, ya. Ada baiknya Anda tanyakan langsung ke kampus tujuan untuk mengkonfirmasi persyaratan yang dibutuhkan dan berlaku di kampus tersebut. Q Apa Saja Program Studi yang Tersedia di Pendidikan Vokasi? A Ada 4 tingkatan program studi yang bisa Anda pilih di pendidikan vokasi, yaitu 1. Diploma 1 D1 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 1 tahun ± 32 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Ahli Pratama. 2. Diploma 2 D2 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 2 tahun ± 64 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Ahli Muda. 3. Diploma 3 D3 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 3 tahun ± 112 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Ahli Madya. 4. Diploma 4 D4 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 4 tahun ± 144 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Sarjana Terapan.Berbeda dengan pendidikan akademik yang berjenjang harus ambil S1 dulu sebelum bisa lanjut S2,dan seterusnya, tingkatan program studi di pendidikan vokasi tidak bisa diambil berjenjang. Artinya,setelah lulus sekolah, Anda hanya bisa memilih salah satu dari 4 jenjang program studi pendidikanvokasi yang mensyaratkan lulusan SMA IPA, atau pendidikan vokasi Analis Kimia mensyaratkan siswa lulusan SMK dengan jurusan yang sama. Tapi ingat, nggak semua kampus yang menyediakan pendidikan vokasi mensyaratkan hal yang sama untuk program studi tertentu, ya. Ada baiknya Anda tanyakan langsung ke kampus tujuan untuk mengkonfirmasi persyaratan yang dibutuhkan dan berlaku di kampus tersebut. Q Apa Saja Program Studi yang Tersedia di Pendidikan Vokasi? A Ada 4 tingkatan program studi yang bisa Anda pilih di pendidikan vokasi, yaitu 1. Diploma 1 D1 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 1 tahun ± 32 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Ahli Pratama. 2. Diploma 2 D2 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 2 tahun ± 64 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Ahli Muda. 3. Diploma 3 D3 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 3 tahun ± 112 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Ahli Madya. 4. Diploma 4 D4 pendidikan vokasi yang dapat diselesaikan selama 4 tahun ± 144 SKS dengan syarat kelulusan berupa laporan praktik dan laporan karya ilmiah. Lulusan dari program studi ini akan memiliki gelar Sarjana Terapan.Berbeda dengan pendidikan akademik yang berjenjang harus ambil S1 dulu sebelum bisa lanjut S2,dan seterusnya, tingkatan program studi di pendidikan vokasi tidak bisa diambil berjenjang. Artinya,setelah lulus sekolah, Anda hanya bisa memilih salah satu dari 4 jenjang program studi pendidikanvokasi yang tersedia. Q Aku Lihat Ada Jurusan Teknik Elektro S1 dan D3. Apa Bedanya, dan yang Mana sebaiknya Dipilih? A Ada banyak sekali jurusan kuliah yang tersedia dalam program pendidikan akademik ataupun vokasi. Perbedaan utama tertentu terletak pada masa studi yang akan ditempuh dan kurikulum ajar yang diterapkan program sarjana lebih ke pemahaman teori untuk pemecahanmasalah, dan program diploma lebih ke pengembangan ilmu terapan sesuai bidangindustri.Perbedaan umum lainnya yang bisa Anda temukan dalam jurusan yang tersedia di dua jenispendidikan ini adalah fokus program studinya. Jika program studi S1 menawarkan fokuspembelajaran yang umum, program studi D3 atau diploma lainnya menawarkan fokuspembelajaran yang jika dalam program studi S1 ada jurusan Teknik Elektro, di program studi D3 ataudiploma lainnya ada jurusan Teknik Elektro Arus Kuat, Teknik Elektro Arus Lemah, danTelekomunikasi. Jika di program studi S1, jurusan- jurusan yang ada di program studi D3 ataudiploma lainnya tersedia dalam peminatan yang bisa dipilih di semester Apa Bedanya D4 dan S1? Kan Sama-Sama Sarjana?Mengacu pada UU, S1 dan Diploma 4 D4 sama-sama disebut jenjang sarjana, namun D4dikenal sebagai sarjana terapan. Masa perkuliahan dan beban studi S1 dan D4 pun relatif samayaitu, sekitar 4 tahun dan 144 SKS. Yang paling berbeda adalah komposisi S1 menitikberatkan pada teori. Perbandingannya 60 persen teori dan 40 persenpraktik. Sebaliknya, D4 lebih fokus pada praktik dengan perbandingan 40 persen teori dan 60persen itu, program studi D4 dan S1 umumnya juga berbeda. Misalnya, prodi S1 Teknik Sipil dan D4Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil, S1 Akuntnansi dan D4 Akuntansi SektorSipil, S1 Ilmu Perpustakaan dan D4 Pengelolaan Informasi dan Manajemen Arsip. Dengan kata lainbanyak prodi D4 yang memang nggak akan Anda temukan di ada juga sih, prodi D4 yang persis sama dengan S1, misalnya D4 Kebidanan UniversitasPadjadjaran dan S1 Kebidanan di Universitas Airlangga. Penekanan studi D4 Kebidanan dan S1Kebinanan agak berbeda, yakni S1 Kebidanan fokus pada keilmuannya sementara D4Kebidanan padapraktiknya. Namun keduanya sama-sama bisa menjalani profesi Bidan danbisa pula meneruskan pendidikan pada jenjang yang lebih lain antara strata D4 dan S1 adalah gelar lulusannya. Lulusan S1 umumnya bergelarsarjana diikuti sesuai prodi/ bidang yang diambil, contohnya Sarjana Kebidanan atau STSarjana Teknik, atau Sarjana Seni. Sementara gelar lulusan D4 adalah Sarjana Sains Terapan STr. diikuti prodi atau bidang studi yang diambil, contohnya S Sarjana Terapan Teknik atauS Tr. Keb Sarjana Terapan Kebidanan. Oya, seorang sarjana terapan bisa meneruskan pendidikanhingga mendapatkan gelar magister terapan atau doktor Apakah Ada Perbedaan Dalam Hal Seleksi Pendidikan Akademik Dengan Vokasi?A Selain jumlahnya yang tersebar, pendidikan vokasi juga menyediakan bidang jurusan yangmembutuhkan berbagai macam keahlian nggak heran kalau masing-masingkampus memiliki caranya sendiri untuk menyeleksi calon mahasiswa yang dianggap cocokuntuk menuntut ilmu di suatu bidang masuk pendidikan vokasi tidak dilaksanakan secara serentak, alias dilaksanakan secaramandiri di kampus yang menyediakan pendidikan vokasi alias Seleksi Mandiri. Jalur yang disediakanpun bermacam-macam seperti jalur prestasi menggunakan nilai rapor, jalur beasiswa tidak mampu,dan jalurreguler dengan tes. Seleksi lewat jalur reguler umumnya melalui tes administratif, tesujiantertulis, tesujikemampuan terkait bidangjurusan, dantes wawancara untuk tahap seleksi yangsudah lebih tinggi. Untuk mengetahui langkah-langkah seleksi yang harus Anda tempuh dijalur masuk pendidikan vokasi manapun, ada baiknya jika Anda langsung menanyakan halterkait ke kampus yang menyediakan pendidikan vokasi yang Anda
Oke, sekarang kamu sudah punya gambaran yang cukup jelas mengenai program studi yang sesuai dengan kepribadian, minat, dan kemampuanmu. Tapi, masih ada satu hal lain yang nggak kalah penting untuk kamu pertimbangkan. Yaitu… memilih kampus! Eksplorasi kampus sama pentingnya dengan ekspolasi minat, bakat, program studi dan profesi dalam merancang masa depan. Memilih kampus yang tepat, tuh, bukan perkara gampang, lho. Belum lagi kasak-kusuk cari info seputar kampus idamanmu yang mungkin aja ternyata nggak cuma satu. Butuh waktu yang nggak sebentar, tentunya. Apa Aja Jenis Pendidikan Tinggi dan Perguruan Tinggi di Indonesia? Sebelum membahas tentang jenis perguruan tinggi, kamu harus paham tentang jenis-jenis pendidikan tinggi dulu, gaes. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ternyata pendidikan tinggi di Indonesia diklasifikasikan dalam 3 jenis, yaitu Pendidikan Akademik, Pendidikan Vokasi, dan Pendidikan Profesi/Spesialis. Pendidikan Akademik adalah sistem pendidikan tinggi yang mengarah kepada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tertentu. Pendidikan Akademik mencakup program pendidikan Sarjana S1, Magister atau Master S2 dan Doktor S3. Lulusan Pendidikan Akademik akan mendapat gelar Sarjana, diikuti dengan bidang keahliannya. Misalnya, Sarjana Ekonomi SE, Sarjana Hukum SH, dan sebagainya. Pendidikan Vokasi adalah sistem pendidikan tinggi yang mengarah kepada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan Vokasi mencakup program pendidikan Diploma I D1, Diploma II D2, Diploma III D3 dan Diploma IV D4. Lulusan Pendidikan Vokasi akan mendapat gelar Vokasi, misalnya, Ahli Pratama Ahli Muda Ahli Madya dan sebagainya. Sedangkan Pendidikan Profesi/Spesialis adalah sistem pendidikan tinggi yang hanya dapat ditempuh setelah menyelesaikan program pendidikan Sarjana untuk dapat menguasai skill set spesifik yang dibutuhkan untuk menjajal profesi yang relevan. Lulusan Pendidikan Profesi/Spesialis akan mendapatkan Gelar Profesi yang sesuai dengan bidang pendidikan yang masing-masing ditempuh. Ada lagi, nih, pertanyaan yang paling sering “meneror” Youthmanual seputar perguruan tinggi Apa, sih, bedanya Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik dan Akademi? Akhirnya, nggak cuma galau nentuin program studi kuliah, tapi para calon mahasiswa baru juga ikutan puyeng mikirin perbedaan jenis perguruan tinggi satu sama lain. Nah, sekarang kamu udah tahu apa aja jenis pendidikan tinggi di Indonesia. Sekarang, yuk pelajari perbedaan masing-masing jenis perguruan tinggi yang ada di Indonesia! Universitas Universitas terdiri dari sejumlah fakultas yang menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan/atau Pendidikan Vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni. Jadi Universitas bisa menyelenggarakan dua jenis pendidikan tinggi nih, yaitu Pendidikan Akademik dan Pendidikan Vokasi. Universitas juga bisa menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai rumpun ilmu tanpa batas. Misalnya, rumpun ilmu agama syariah, ekonomi islam, ilmu penerangan agama Hindu, dan sebagainya, rumpun ilmu humaniora filsafat, sejarah, bahasa, dan sebagainya, rumpun ilmu sosial sosiologi, psikologi, ekonomi, dan sebagainya, rumpun ilmu alam ilmu angkasa, ilmu kebumian, kimia, dan sebagainya, rumpun ilmu formal komputer, matematika, statistika, dan sebagainya dan rumpun ilmu terapan pertanian, arsitektur dan perencanaan, bisnis, dan sebagainya. Jadi, bisa dibilang univeristas adalah perguruan tinggi yang menyediakan apa pun kebutuhan pendidikan tinggimu. Ihiy! Institut Institut terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan/atau Pendidikan Vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sama seperti Universitas, Institut bisa menyelenggarakan dua jenis pendidikan tinggi juga—Pendidikan Akademik dan Pendidikan Vokasi. Trus, apa, dong, bedanya dengan Universitas? Bedanya, fakultas-fakultas dalam sebuah institut berasal dari satu jenis keilmuan saja. Berbeda, dong, dengan universitas yang fakultas-fakultasnya berasal dari berbagai jenis keilmuan. Misalnya, Institut Teknologi Bandung ITB hanya fokus kepada rumpun ilmu alam, sehingga fakultas-fakultas di ITB hanyalah yang terkait dengan ilmu alam, seperti ilmu angkasa, ilmu kebumian, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu fisika, dan sebagainya. Sekolah Tinggi Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang melaksanakan Pendidikan Akademik dan/atau Pendidikan Vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sama seperti Universitas dan Institut, Sekolah Tinggi bisa menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan Pendidikan Vokasi. Namun, berbeda dengan Universitas dan Institut, Sekolah Tinggi cuma terdiri dari satu fakultas yang terbagi ke dalam berbagai program studi. Misalnya, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi hanya menyediakan program studi-program studi dari Fakultas Komunikasi, seperti Hubungan Masyarakat, Penyiaran, Periklanan, dan sebagainya. Contoh Sekolah Tinggi di Indonesia adalah London School of Public Relation atau Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Indonesia. Politeknik Politeknik adalah sekolah tinggi yang hanya menyelenggarakan Pendidikan Vokasi. Jadi Politeknik nggak menyelenggarakan Pendidikan Akademik, gaes. Sesuai dengan jenis pendidikan tinggi yang ditawarkan, tujuan politeknik sendiri tentunya untuk mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi anggota masyarakat yang punya kemampuan profesional agar mampu menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi agar taraf hidup masyarakat dan kesejahteraan umat manusia meningkat. Akademi Sama seperti Politeknik, Akademi adalah sekolah tinggi yang hanya menyelenggarakan Pendidikan Vokasi dalam satu atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi atau seni tertentu. Nah, beda antara Politeknik dan Akademi adalah, Politeknik bisa menyelenggarakan Pendidikan Vokasi dari beberapa rumpun ilmu, sedangkan Akademi hanya bisa menyelenggarakan Pendidikan Vokasi dari satu cabang ilmu saja. Misalnya, di Politeknik Negeri Jakarta PNJ tersedia program studi dalam rumpun ilmu rekayasa teknik elektro, teknik mesin, teknik kimia, dan sebagainya dan rumpun ilmu tata niaga akuntansi, bisnis, manajemen, dan sebagainya. Sementara Akademi Sekretari dan Manajemen Don Bosco hanya berisi program studi seputar Kesekretariatan dan Manajemen. Lalu, dalam hal pengelolaan, perguruan tinggi juga terbagi lagi menjadi 3, yaitu Perguruan Tinggi Negeri PTN, yaitu perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintahan, baik langsung berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional maupun di bawah departemen lain milik pemerintah. Perguruan Tinggi Swasta PTS, yaitu perguruan tinggi yang dimilliki dan dikelola oleh perorangan atau kelompok/yayasan tertentu. Perguruan Tinggi Kedinasan PTK, yaitu perguruan tinggi di bawah departemen selain Departemen Pendidikan Nasional, atau merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri yang memiliki ikatan dengan lembaga pemerintahan sebagai penyelenggara pendidikan.
Ilustrasi buku puisi. Foto Shutter StockBarangkali kita sudah telanjur rindu menebal menjadi harap untuk melihat kembali pemikir-pemikir hebat muslim yang turut menyumbangkan buah pikirannya dalam kancah khazanah pengetahuan setidaknya menjadi pelita gelap dalam "ketertinggalan" secara pengetahuan dunia Islam atau dunia 'barat' selama berpuluh-puluh tahun belakangan sejarah, amat kita saksikan bagaimana kegemilangan pengetahuan yang dihasilkan pemikir muslim dapat membentuk peradaban Islam yang maju dalam segala lini kehidupan. Dewasa ini, tak sedikit dari kita yang menjunjung nama Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Al-Khawarizmi dan lain semacamnya; tanda keperkasaan peradaban Islam dan sumbangasihnya terhadap dunia pengetahuan Indonesia modern sendiri, kita mengenal pemikir-pemikir keren yang karyanya banyak menginspirasi bagaimana tingkah laku muslim untuk kembali menghidupkan kegemilangan sejarah tersebut. Sebut saja Abdurrahman Wahid, pemikiran dan kebijakannya adalah ciri bagaimana sifat tasamuh, tawazun, taadul dan tawasuth tertanam, bahkan sejak dalam Nurcholis Madjid dengan gagasan Islam modernnya, pemikirannya kemudian banyak ditapaki jejaknya oleh orang-orang sesudahnya, Buya Syafii Maarif, Adian Husaini dan juga tak kalah pentingnya ialah Amien Rais dengan gagasan politiknya, meskipun dalam dunia politik praktis kita melihat ia hanya menjadi semacam "gelandangan" politik yang ternyata hari-hari ini kita menemui dialektika pemikiran Islam di banyak perguruan tinggi Islam telah mengalami banyak perubahan. Ada terjadi semacam kemandekan pemikiran dari tubuh calon-calon penerus pemikir terlihat begitu jelas ketika pada hari ini perguruan tinggi tidak lagi menghasilkan pemikir hebat dalam dunia Islam. Perguruan tinggi Islam dan juga yang lainnya telah disibukkan dengan proyek untuk mengembangkan manusia secara fisik menuju kebutuhan pasar hilirisasi dan melupakan hakikat pendidikan secara dinamika perguruan tinggi Islam sendiri misalnya, lebih difokuskan pada satu produk yang itu merupakan bentuk lain daripada pemenuhan kebutuhan pasar industri. Sedangkan, hakikat sesungguhnya pendidikan tinggi ialah berkaitan dengan tugas tri dharma perguruan tri dharma hendak menciptakan bangsa yang cerdas, bangsa yang sempurna dan generasi ulul albab. Atau mereka yang haus akan ilmu, dengan senantiasa berzikir kepada Tuhan Yang Maha-esa sebagai urat tunggang Pancasila. Dan ini hanya akan diperoleh saat mahasiswanya menemui pembelajaran yang tidak hanya ditujukan untuk menjadi, mohon maaf "kacung-kacung" birokrat dan pegawai perusahaan industri. Dalam kajian tentang Renaissance ialah manusia heran kemudian apabila di zaman keemasan Islam dulu misalnya, banyak para ilmuwan muslim yang menguasai banyak disiplin ilmu, Al-Ghazali selain dikenal sebagai filsuf juga ahli dalam ilmu hadis atau ketika era kebangkitan intelektual barat, Rene Descartes selain dikenal sebagai filsuf juga ahli dalam ilmu fisika, matematika dan lain Azra mengatakan bahwa pada hari ini banyak kalangan akademisi yang bergelut di dalam perguruan tinggi tidak dapat dikatakan sebagai kaum intelektual melainkan hanya sebagai kaum intelegensi dan intelektual memiliki damarkasi konsep yang amat jelas, bahwa intelegensi hanya berfokus pada pekerjaan mereka tanpa memikirkan sesuatu diluar kesibukan mereka. Sedangkan, seorang intelektual ialah mereka yang banyak memikirkan kemajuan orang banyak, melawan penindasan dalam segala bentuk memang yang ditemui adalah seperti itu, hilirisasi pendidikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pasar mengakibatkan kepada lahirnya seorang intelegensi bukan intelektual. Sedangkan, orang-orang intelektual ialah apa yang disebut Ali Syariati sebagai rausyan fikr atau orang-orang yang heran apabila hari-hari ini sulit, setidaknya di Indonesia kita menemukan kembali orang-orang semacam Buya Syafii, Cak Nur, Gus Dur, Kuntowijoyo, Jalaludin Rakhmat, Rasjidi, Dawam Raharjo, Harun Nasution dan sebagainya yang kesemuanya ini adalah wujud dari intelektual Islam yang dilahirkan dari rahim perguruan tinggi yang otentik di mana ilmu dilahirkan untuk ilmu, bukan sebagai anak buangan untuk dikerjakan menjadi budak-budak ialah, pemikiran-pemikiran sebagai bentuk konkret dari para pemikir intelektual muslim itu telah menjadi dasar pijak sebagai respons atas dinamika global, persoalan sosial dalam segala lini kehidupan sosial, politik, ekonomi bangsa dan dunia Islam khususnya untuk perbaikan ke masa hadapan yang lebih Buya Syafii bahkan mengatakan seharusnya manusia menjadi rumah kearifan bagi sesamanya, dan guna membentuk manusia yang arif tersebut perguruan tinggilah yang memiliki peranan paling penting dan menentukannya. Seyogyanya perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi Islam dalam hal ini mampu untuk mendekontruksi pola metode pembalajaran yang ada, seraya itu ditambah pula dengan penanaman identitas sebagai muslim yang kamil untuk kemudian terbentuklah generasi ulul albab sebagaimana yang ini, jamak ditemui dalam perguruan tinggi Islam, materi pembelajaran hanya menyampaikan bagaimana mahasiswa mampu untuk menguasai soft-skill sesuai dengan jurusannya sendiri-sendiri. Kedua, perguruan tinggi hanya menjadi agen distribusi pekerja dengan janji-janji dan iming-iming jika berkuliah di sini maka akan cepat mendapatkan pekerjaan. Selanjutnya, perguruan tinggi Islam maupun umum hanya dijadikan alat relasi kuasa dengan berbagai wacana yang ada, yang tentunya hal ini ditujukan untuk melanggeng status quo yang penumbuhan kesadaran secara kolektif khususnya pada kalangan umat Islam untuk kembali benar-benar mendidik dan didik ke dalam sebuah ajaran yang otentik sehingga menjadi manusia yang benar-benar sempurna dengan semangat haus akan ilmu yang senantiasa berzikir kepada Tuhan Yang itu, guna menciptakan kembali pemikir Islam sebagaimana zaman dulu pernah dilakukan, ialah dengan tidak hanya konsen pada satu keilmuannya saja, melainkan mampu menjadi sosok pemikir yang harus dan pasti hadir di tengah masyarakat, Jalal menamainya dengan ekspansi ilmu terakhir, tentunya perlu agar perguruan tinggi merevisi cara mendidik agar tidak terfokus pada pengisian secara kognitif, bahwa ditekankan pula suatu urgensi paling fundamental tentang manusia yang memiliki tugas sebagai khalifah untuk membumikan ajaran Allah SWT di bumi-Nya secara melakukan hal-hal ini, secara pribadi saya memiliki keyakinan akan tumbuh dan lahirlah pemikir-pemikir hebat kembali di dalam tubuh umat Islam, terutamanya kalangan mahasiswa dan pelajar muslim Indonesia.
materi bk mengenal perguruan tinggi